Senin, 13 Mei 2013

Review : Sister ( 2012 )

 Sister
"When Two Worlds Collide...in Kid's Point of View"Director     : Ursula Meier
Screenplay : Antoine Jaccoud and Ursula Meier
Cast          :  Lea Seydoux, Kacey Mottet Klein, Martin Compston, Gillian Naderson


Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata Swiss? Netral? Dingin? Salju? Jam tangan? Pisau army? Apapun itu, bersiap-siaplah untuk melihat sebuah sisi lain dari Swiss, sebuah sisi kemiskinan yang bisa jadi tidak terbayangkan ada di negara yang termasuk salah satu negara terkaya di dunia, dengan pendapatan tertinggi per kapitanya.

Di sebuah ski resort di Swiss, hiduplah seorang anak yang baru berusia 12 tahun, Simon (Klein) yang tinggal bersama sang kakak yang tidak bisa diandalkan, Louise (Seydoux). Untuk bertahan hidup, Simon harus mencuri peralatan-peralatan ski yang mahal dari turis-turis yang lengah, yang kemudian ia jual kembali dengan harga murah untuk membeli susu, pasta, dan tisu toilet. Simon kemudian bertemu dengan Mike (Compston), seorang kewarganegaraan Inggris yang akhirnya menjadi penadah barang-barang curiannya, dan menjadi dekat. Di sisi lain, Louise selalu memperlakukan Simon bagaikan beban hidupnya. Mengapa Simon tetap bertahan hidup dengan Louise?

Sister ini merupakan film yang mewakili Swiss untuk kategori Best Foreign Language Film di tahun 201. Selain itu, film ini juga memenangkan Silver Berlin Bear di Berlin International Film Festival di tahun 2012, juga  memberikan nominasi untuk Klein sebagai Most Promising Actor di The Cesar Award 2013, dan masih banyak lagi. Ursula Meier, yang juga menyutradarai Home (2008) menulis naskah dan menyutradarai filmnya dengan cermat memaparkan sebuah kenyataan yang sangat jarang terpikirkan, seperti yang sudah gue sebutkan di awal review ini. Dibantu dengan Agnes Godard di bagian sinematografi, Sister menghantam gue dengan pemandangan serba putih yang terasa begitu menyesakkan, depresif, dan juga dingin, hal yang sangat relevan dengan tema filmnya sendiri.


















Hal ini juga sangat dibantu dengan performa duet akting yang menakjubkan dari Kacey Mottet Klein dengan Lea Seydoux, yang menunjukkan chemistry mencengangkan, berada di antara love and hate relationship di antara sepasang 'kakak-beradik' ini. Selama 97 menit, kita disuguhkan sebuah realita lain dari kehidupan seorang anak, di dunia yang keras dan dingin, dan berusaha untuk bertahan hidup dengan mencuri. Itu saja? Tidak, karena Meirer membuat gue tercengang, menyuguhkan kehidupan dua dunia yang saling bertabrakan di sebuah setting yang sama : kehidupan kaya dan miskin. Belum lagi dengan sebuah twist yang buat gue 'bangkeeee' banget (Gue sih nangis yah, for your information aja sih). Twist ini ibarat sebuah luka yang ditutup-tutupi, lama kelamaan mulai membusuk dan bernanah, menimbulkan bau busuk, tapi tak seorang pun yang menyadarinya. Maaf kalo abis baca kalimat barusan bikin kalian jadi mual.

Secara keseluruhan, buat kalian yang memang mencinta genre drama dengan tema yang depresif, Sister jelas sebuah alternatif tontonan yang wajib dicoba. Ibaratnya, Sister ini bagaikan mengungkapkan banyak 'kegelapan' yang sangat kontras dengan warna putih salju yang memenuhi layar, begitu sunyi dan dingin mencekam, dan jelas-jelas tidak menyenangkan. Tapi, kalau semua itu diharmonisasikan dengan keindahan panorama pegunungan Swiss yang terlihat begitu indah dan 'suci'...you will really loving it.

Film ini adalah salah satu film yang ditayangkan di Europe on Screen 2013.

Sabtu, 11 Mei 2013

Review : Heima and Inni ; Sigur Rós


HEIMA & INNI
An Introduction and A Nice Friendly Chatting


Inni : Sigur Ros (2011)
Director : Vincent Morisset
Cast : Jon Thor Birgisson, Orri P. Dyrason
, Georg Hoim


 
Heima : Sigur Ros (2007)
Director : Dean DeBlois
Cast : Jon Thor Birgisson, Orri P. Dyrason, Georg Hoim
 *********

Oke, mungkin sekarang sih sudah banyak yang familiar dengan nama Sigur Ros, tapi buat gue sendiri, nama ini baru familiar belakangan ini. Hmm...to be exact, sejak sahabat gue, Merista Kalorin mulai ketagihan dengan musik mereka, barulah gue tahu bahwa ada sebuah band bernama Sigur Ros yang eksis di dunia ini. Well, mungkin emang gue aja yang ketinggalan berita, karena rupanya mereka sudah ada sejak tahun 1994 (itu semacam gue masih unyu-unyunya). 
Jadi, Mery kemudian mengirimkan dua lagu dari Sigur Ros untuk kemudian gue dengar, yaitu Hoppipolla dan Heima. Alasan kenapa lagu ini yang dipilih karena katanya lagu ini paling easy listening buat kuping gue (yang masih sangat alay, sodara-sodara!). Membuat gue jadi kepikiran sendiri saat itu, yang easy listening-nya aja begini, gimana yang gak easy listening-nya yak...Tapi toh nyatanya, based on curiosity (and they said that curiosity could killed a cat...which is one of the cutest and adorable creature in this world, beside my babies, Aimee and Ayden of course) membuat gue kemudian nekat untuk menonton Inni : Sigur Ros di festival Europe on Screen hari Minggu kemarin di Erasmus Huis. Dengan peluh yang mengalir deras, tas backpack yang berat, dan sekotak anggur yang gue bawa sebagai camilan, gue pun masuk, hanya berbekal pengetahuan bahwa Sigur Ros adalah sebuah band asal Islandia dengan musik yang masih terasa aneh di kuping gue.
Inni, yang disutradarai oleh sutradara berkebangsaan Kanada, Morisset dan berdurasi sepanjang 74 menit ini bisa jadi merupakah salah satu film dokumenter ter-absurd yang pernah gue tonton. Pertama, karena seluruh lagu yang dimainkan di dalam filmnya tak ada satupun yang familiar di telinga gue. Kedua, pilihan Morisset untuk membuat filmnya hitam-putih, ditambah dengan shot-shot yang tidak biasa, menyorot seluruh personel band ini dalam memainkan alat musik dan bereksperimen. Ketiga adalah  dengan suara lengkingan dari Birgisson yang dijuluki angel falsetto. Dan terakhir karena banyak dimasukkannya gambar-gambar seperti langit malam yang bertaburkan sejuta bintang atau hujan dan kabut, yang membuat kesan ambience dan dreamnya semakin nyata. Dan terus terang saja, dengan pilihan seperti ini, pilihannya cuma dua, lo tertidur atau terhipnotis.
Dan gue? Untungnya gue tidak melewatkan seluruh durasi filmnya dengan tertidur, karena gue terlalu sibuk terhipnotis dengan apa yang ada di depan gue. Musik Sigur Ros sendiri, setelah gue perhatikan dengan lebih dekat...musik mereka sangat rumit. Memang terdengar sederhana, tapi sekaligus terdengar begitu kaya dan rumit. Dan bisa menyaksikan itu semua di depan mata gue membuat gue terbuai dan terhipnotis. Rasanya bagaikan diajak masuk ke dalam alam mimpi yang begitu aneh, tak memiliki sebuah bentuk cerita yang utuh, melayang-layang di angkasa...tapi sekaligus terasa begitu damai dan menyejukkan jiwa. Terutama ketika lagu Svefn G Englar (Gue baru tahu judul lagunya belakangan sih, again, thanks to you Mer!) dimainkan...Benar-benar eargasm and breathtaking!



 














Tidak tanggung-tanggung, kurang lebih lima hari setelah pengalaman itu, gue langsung melanjutkannya dengan film dokumenter mereka yang kedua, yaitu Heima. Dirilis terlebih dahulu dibandingkan dengan Inni, Heima masih menawarkan feel yang sama dengan Inni. Bedanya, film yang disutradarai oleh DeBlois ini memberikan film yang lebih berwarna dan ringan, dibandingkan dengan Inni. Heima terasa begitu hangat dan memabukkan, menyaksikan mereka melakukan konser unofficial di kampung halaman mereka sendiri, yang dihadiri oleh orang-orang yang mengenal mereka secara pribadi, memberikan kesan seoalh gue ada di antara mereka, menyaksikan keempatnya dengan penuh takjub dan kekaguman, dan sekaligus terasa begitu dekat.

Hal ini kemudian ditambahkan dengan DeBlois yang memasukkan gambar-gambar pemandangan alam, seperti air terjun yang dilambatkan atau layangan yang terbang bebas di awan biru, landscape yang begitu indah....memberikan kesan kampung halaman yang begitu kuat (walau kampung halaman gue mungkin tidak sekeren itu). Berbeda dengan Inni yang terasa begitu jauh dan bagaikan khayalan, Heima terasa lebih nyata dan personal, gue seolah diajak ikut pulang ke kampung mereka, dengan perbukitan yang mirip dunia Teletubbies, dan malah bikin gue jadi memasukkan Islandia sebagai salah satu negara wajib dikunjungi sebelum mati...

Jadi secara keseluruhan, kedua film ini benar-benar membawa gue ke sebuah dimensi baru. Ketika Inni mengajak gue ke sebuah dunia penuh keabsurdan tapi sekaligus sebagai sebuah salam perkenalan akan musik mereka yang tidak begitu mudah gue cerna, maka Heima bagaikan sebuah percakapan penuh persahabatan yang semakin membuat ketertarikan gue akan Sigur Ros ini semakin kuat. Dan gue rasa, orang yang harus gue berikan rasa terima kasih ini tentu Mery, yang sudah terlebih dahulu tenggelam dalam dunia penuh ilusi dan hipnotis dari Sigur Ros. 

So, Mery... this double back review is highly dedicated for you, For everything that you gave for almost a year of our friendship. And happy birthday. Stay fabulous and classy, exactly like our first time chatted. Happy birthday, dear...

Senin, 06 Mei 2013

Review : Les Geants ( 2011 )


LES GEANTS 
" A Beautiful painfully coming of age movie "

Director              : Bouli Lanners
Screenplay          : Bouli Lanners and Elice Ancion
 Cast                   : Zacharie Chasseriaud, Martin Nissen, Paul Bartel, Karim Leklou



                Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar nama Belgia? Kalo gue sih sudah jelas: praline chocolate. Negara ini memang sangat terkenal dengan kualitas cokelatnya, sehingga kadang-kadang menyebut Belgia tidak cukup dengan Belgia saja, tetapi Belgium Praline Chocolate. Padahal, ada banyak hal dari Belgia, yang sebagian gue intip ketika menonton The Giants (atau Les Geants), sebuah film yang diputar di festival Europe on Screen 2013.

                Film ini berkisah mengenai kakak beradik Seth (Nissen)dan Zak (Chasseriaud) yang menjalani hari-hari mereka di musim panas tanpa kehadiran orang tua mereka. Bersama sahabat baru mereka, Danny (Baqrtel), mereka berpetualang untuk merasakan kehidupan orang dewasa : menyetir, mengisap ganja, minum alkohol, dan lain sebagainya. Lalu kemudian, ketika mereka tidak memegang uang sepeser pun lagi, keadaan menjadi sulit. Mereka kemudian memutar akal dengan cara menyewakan rumah peninggalan kakek mereka untuk menjadi tempat penanaman ganja kepada Beef. Sayang, apa yang mereka rencanakan jauh dari kenyataan.

                Dalam festival Europe on Screen, yang dilaksanakan lebih cepat tahun ini, film ini ada di kategori ‘Discovery’, yang merupakan film-film pilihan yang memberikan kita pemahaman mengenai isu-isu yang ada di negara moviemakernya masing-masing. The Giants pertama kali tayang di Cannes Film Festival pada tanggal 20 Mei 2011, sebelum akhirnya tayang di negaranya sendiri pada tanggal 12 Oktober 2011. Dan walaupun hanya berdurasi 84 menit, bersiap-siaplah menyaksikan sebuah film petualangan yang dibalut dengan keindahan negara Belgia.

                Lanners yang menyutradarai dan menulis naskahnya bersama dengan Ancion ini tidak lantas membuat sebuah film drama petualangan biasa. It is more than that. Sangat suka dengan bagaimana kedalaman ceritanya dibangun dengan cara yang mengalir seperti air. Rasanya bukan seperti menonton tiga sekawan ini di layar bioskop, tapi rasanya gue berada bersama mereka, ikut dalam petualangan-petualangan gila nan jenaka khas anak-anak, yang semuanya terasa begitu natural tapi sekaligus miris. Miris melihat anak-anak seusia mereka sudah lepas ke jalanan, hidup sendiri tanpa dipedulikan oleh orang tua mereka. This is definetely not right, tapi Lanners bisa mengarahkan penonton untuk tertawa bersama mereka, tanpa harus menjadi preachy atau judgmentally, yang ada hanya menyuguhkan sebuah realitas yang ada. An ugly truth, karena sangat relevan, bukan hanya di negara asalnya tapi juga di Indonesia....di seluruh dunia.


                Poin lain yang harus disorot adalah keindahan landscape dari kota kecil Ardennes dan juga Luxembourg tempat film ini syuting. Menampilkan sebuah bentuk kesunyian dan nuansa surviving di tengah alam bebas yang begitu murni tak tersentuh modernisasi. Jean-Paul De Zaeytijd berhasil menangkap esensi dari filmnya dan menghasilkan gambar-gambar panorama keindahan lain dar Belgia yang jarang diekspos.

                Dan setelah tadi gue menyinggung masalah ‘alami’, hal ini juga berlaku untuk para pemain utamanya. Mereka tidak terlihat seperti sedang memerankan peran, mereka bagaikan sedang memainkan diri mereka sendiri. Keceriaan dalam menjalani hari-hari yang serba tidak pasti dan pastinya sangat sulit dibayangkan kita semua, pandangan kosong mereka yang menerawang jauh, semuanya sangat meyakinkan. Mereka mengajak penonton untuk turut menjadi teman seperjuangan mereka, turut dalam petualangan yang semakin mendewasakan mereka, tanpa harus ada satupun adegan menye-menye dan emosional (memangnya sinetron Indonesia?). 















Terkhusus untuk Zacharie Chasseriaud yang memerankan Zak yang paling muda diantara mereka bertiga, sosoknya sebagai yang paling ceria, usil, dan jahil, namun memiliki karakterisasi paling dalam dan kompleks. Zak yang menyembunyikan kerinduannya kepada sang ibu, yang disimbolkan dengan mobile phone yang tak pernah lepas dari tangannya, sampai ke sebuah ending yang tidak bisa dikatakan happy atau sad ending, tapi sebagai sebuah film bertemakan coming of age, this is so perfect. It’s so beautiful painfully one.

Buat yang ketinggalan, film ini masih akan tayang sekali lagi tanggal 8 Mei di Instituto Italiano Jakarta dan tanggal 9 Mei di AF Medan.
               

Kamis, 02 Mei 2013

American Psycho (2000) : “A Portrait Of Modern Society”



Director              : Mary Harron
Screenplay          : Mary Harron and Guinevere Turner, based on novel by Bret Easton Hills
Cast                  : Christian Bale, Willem Dafoe, Jared Leto, Josh Lucas, Samantha Mathis, Chloe Sevigny, Cery Seymour, Justin Theroux, Reese Witherspoon

Warning : This review may congtain spoiler!

Siapa yang tidak suka dengan psikopat? Well, i dont know with the others, tapi gue sangat tertarik dengan tema ini. Manusia dengan kelainan mental yang sangat berbahaya bagi manusia lainnya ini terlihat begitu appetizing, di dunia fiksi tentu saja. Entah sudah berapa banyak film yang mengeksplor sisi psikopat ini, entah itu melalui unsur psikologis atau hanya dari sisi slashernya saja. Siapa sih yang tidak kenal dengan Hannibal Lecter atau Norman Bates yang sangat melegenda? Ke’sakit’an mereka justru dieksplor dengan berbagai macam cara. Sekuel, prekuel, film, hingga kini serial TV, you named it.

Sebagai pecinta psikopat, gue tentu saja mewajibkan diri sendiri untuk menonton semua film-film yang mengangkat tema ini, dari sisi psikologis (Sebaliknya, gue ini tidak tahan dengan genre slasher, kontradiksi yang aneh memang). Salah satu yang ada di list gue adalah film ini. Di tahun 2000, sebelum Christian Bale menjelma menjadi vigilante berkostum hitam ketat, dia berubah menjadi seorang psikopat tampan namun mengerikan, diangkat dari novel karya Bret Easton Hills berjudul sama, American Psycho.

What's for lunch, anyone?

Di Manhattan, tinggallah seorang bankir investasi yang kaya dan tampan, Patrick Bateman (Bale). Dari luar, kehidupan Bateman sangat sempurna. Dia punya seorang tunangan cantik dan kaya, Evelyn (Witherspoon), kehidupan sosial yang sangat sibuk dengan teman-teman high-endnya, apartemen indah dengan pemandangan spektakuler, karir bagus dengan gaji tinggi, hingga tubuh dan wajah indah dan terawat. Menggiurkan bukan? Tapi itu hanya apa yang nampak di luar karena sesungguhnya, Bateman menyimpan sebuah sisi kelam untuk dirinya sendiri. Di kehidupan senggangnya, Bateman gemar membunuhi orang-orang tanpa alasan yang jelas.

Di kantornya, Bateman kemudian merasa sangat inferior terhadap Paul Allen (Leto). Allen dianggap lebih dibandingkan dirinya. Allen bisa dengan mudahnya memesan tempat di restoran terbaru, selera musik dan fashion yang lebih baik, dan bisa mendapatkan klien yang diincar banyak orang. Kekesalan Bateman memuncak ketika Allen mencetak kartu nama bisnis yang begitu indah, hingga akhirnya Bateman membunuh Allen dan membuang tubuhnya. Keluarga Allen kemudian meminta detektif Donald Kimball (Dafoe). Akankah Bateman berhasil lolos dari kecurigaan Kimball? Apa yang akan terjadi pada Bateman nantinya?


American Psycho pertama kali ditayangkan di Sundance Film Festival pada tanggal 14 April 2000. Disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Mary Harron (bersama dengan guinevere Turner), yang sebelumnya menyutradari film I Shot Andy Warhol. Sebelum Bale terpilih, ada banyak nama yang dicalonkan untuk memerankan Bateman, seperti Johnny Depp, Brad Pitt, Edward Norton, Leonardo DiCaprio, hingga Ewan McGregor. Dan untuk menghidupkan karakter Bateman, Bale menghabiskan waktu beberapa bulan untuk membentuk tubuhnya untuk mendapatkan bentuk  fisik yang sempurna. Mengenai pendalaman buat karakternya yang menderita Narcissistic Personal Disorder (NPD) sendiri, Bale terinspirasi dengan wawancara Tom Cruise dengan David Letterman dan juga penampilan Nicholas Cage di Vampire’s Kiss.

Gue memang belum baca novelnya (but it’s on my list!), tapi berdasarkan dengan apa yang gue baca, Harron sebagai sutradara dan penulis naskah rupanya berhasil menerjemahkan inti dan pesan dari novelnya sendiri. Di satu sisi, gue suka sekali dengan filmnya. American Psycho menurut gue merupakan sebuah perfect blend antara sisi psikologis dari Bateman yang berpadu dengan darah yang mengalir. Begitu keji dan tidak terbayangkan, dan walaupun gue sendiri ngilu melihat adegan slashernya, sekaligus merasa ‘terganggu’ dengan beberapa visualisasinya...tapi gue cinta bagaimana karakter Bateman ini digambarkan. Despite of being psycopath, Bateman hanyalah potret dari banyak orang di sekitar kita. Potret dari banyak manusia yang sudah mereguk sukses secara duniawi, namun tetap merasa kosong. Potret dari kemunafikan yang ada dimana-mana. Bale, you got me when you smiling with your cold eyes. Creepy.

I'm way too handsome!


Sekilas, American Psycho mungkin hanya menceritakan point of view seorang psikopat yang nampak sempurna dalam berbagai hal, but deep down inside, it showed us more. Secara gamblang, film ini menyindir bentuk masyarakat modern yang sangat hedonis dan menghambakan materi. Bagaimana seorang manusia dinilai bukan karena apa yang ada di dalam dirinya, melainkan dengan apa yang ia miliki. Terlebih lagi, filmnya juga menyorot sebuah mentalitas manusia-manusia yang sudah sangat individualis dan begitu ignorant terhadap sesama, selama itu tidak mengganggu kepentingan diri mereka sendiri. Mengerikan, karena ini memang ada di depan mata kita semua. 

Dan menurut pendapat gue, dengan caranya sendiri, American Psycho mirip seperti Fight Club-nya Fincher. Keduanya sama-sama menyampaikan pesan yang ada dengan sangat satir dan gelap. American Psycho membalut kritik sosial mengenai gaya hidup masa kini dengan cara yang satir dan keji berbalut dengan darah, sedangkan Fight Club lebih ekstrem lagi, meneriakkan anti kapitalisme dengan gayanya yang cenderung ‘anarkis’ (herannya malah masuk akal buat gue). Im not going to make further comparation about these two. Maybe someday I’ll write one essay about this, but not now.

Dengan caranya yang aneh, American Psycho sanggup membuat gue tertawa, walau tawa itu lebih ke tawa pahit dan muak. Bukan muak akan pembunuhan-pembunuhan keji yang dilakukan oleh Bale, tapi muak dengan kebenaran mengenai gaya hidup hedonisme dan konsumerisme yang begitu materialistis. Muak, karena secara tidak langsung gue merasa bahwa gue, walau tidak sampai ke tahap yang ekstrem, bisa jadi adalah penganut gaya hidup ini. Dan percayalah, perasaan muak dan desperate seperti ini tidak sepantasnya dirasakan ketika sedang makan siang. Moral lesson : don’t watch this while you’re having your lunch with red meat. I know it better now. Good day!



Rabu, 01 Mei 2013

Cape Fear (1991) "Beware...Vengeance Are On The Way!"





Director                : Martin Scorsese
Screenplay          : Wesley Strick, based on original script written by James R. Webb, adapted from novel The Executioner by John D. Macdonald
Cast                       : Robert DeNiro, Nick Nolte, Jessica Lange, Juliette Lewis

                Sebelum DiCaprio, ada nama DeNiro yang merupakan aktor kesayangan dari Scorsese. Tidak kurang dari 8 judul film yang dibesut oleh Scorsese dimana DeNiro menjadi pemeran utamanya. Buat semua pecinta film, terutama fans Scorsese pasti tahu semua judulnya, terutama karena beberapa judul merupakan karya terbaik dari Scorsese. Sebut saja Mean Streets (1973), New York, New York (1977), The King of Comedy (1983), hingga the notable and critical acclaim Taxi Driver (1976), Raging Bull (1980), Goodfellas (1990), Casino (1995). Dan yang akan gue coba untuk ulas kali ini adalah remake dari film berjudul sama di tahun 1976, yang merupakan film ketujuh dari kerja sama Scorsese-DeNiro : Cape Fear.

Creepy...in a sexy way. (dafuq did i just write)

            Film dimulai ketika Max Cady (DeNiro), seorang residivis yang baru saja keluar dari penjara setelah dihukum selama 14 tahun. Kebebasan ini tidak berarti apapun bagi Cady, karena yang ada di dalam pikirannya hanya satu : balas dendam. Dan sasaran balas dendamnya berwujud Sam Bowden, seorang pengacara yang dulu bertugas membela kasus pemerkosaan Cady. Cady yakin bahwa karena kesalahan Bowden lah yang membuatnya berakhir di penjara dan kehilangan semuanya. Dan keinginan balas dendam Cady ini sangat menyeluruh, karena istri Sam Bowden, Leigh (Lange) dan putri remajanya, Danielle (Lewis) juga turut menjadi sasaran. Seperti apakah balas dendam yang dilancarkan Cady? Benarkah Bowden memang bertanggung jawab? Dan akankah keluarga Bowden lolos dari amarah balas dendam Cady?

                Satu fakta menarik yang gue baca, awalnya justru Spielberg lah yang akan menyutradarai film ini, namun membatalkannya dikarenakan Spielberg menganggap film ini terlalu brutal. Spielberg lalu menukar dengan proyek Scorsese saat itu, Schindler’s List, yang juga tidak ingin dibuat oleh Scorsese. Lucu, karena kedua film ini sama-sama ‘brutal’, dan sama-sama ‘terkenal’, terutama Schindler’s List, yang merupakan salah satu film terbaik Spielberg. Namun toh, Spielberg tidak lepas tangan karena dia masih bertindak sebagai produser lewat Amblin Entertainment, walau meminta agar namanya tidak ditampilkan di credit film.



                Satu hal yang pasti, Cape Fear merupakan sebuah film khas Hollywood yang dieksekusi dengan baik oleh Scorsese. Dengan gaya penyutradaraan Scorsese yang begitu kelam, mampu memberikan sensasi ‘creepy’ yang begitu kental. Dengan sinematografi dari Fraddie Francis dan score dari Elmer Bernstein, gue merasakan sensasi seperti menonton karya Alfred Hitchcock, dengan penggunaan warna-warna yang soft tapi dark sekaligus beberapa shot hitam putih dan ala negative film, memberikan kesan artistik dan memperkuat feel filmnya sendiri. Dan memang seperti yang diakui oleh Scorsese sendiri bahwa dia terinspirasi oleh Alfred Hitchcock (sangat terasa sekali di opening film) dan juga film karya MItchum, The Night of The Hunter. Sayang, karena gue sendiri belum nonton versi originalnya, gue tidak bisa membandingkan kualitas di antara keduanya atau seberapa baik remake dari Scorsese ini.

                Dan kekuatan utama dari film ini sendiri, tentu saja ada di tangan Robert DeNiro, salah satu aktor terbaik yang dimiliki Hollywood. Dengan kekuatan aktingnya, Max Cady menjelma menjadi salah satu villain paling menyeramkan yang pernah ada. Kejam, cerdas, dingin, penuh perhitungan, dan berkemauan keras merupakan sebuah kombinasi mematikan dan sulit untuk dikalahkan. Cara balas dendamnya yang begitu terorganisir dan manipulatif, membuat gue menggigil ketakutan, bertanya-tanya sendiri akankah Bowden lolos dari angkara murkanya. DeNiro mengolah tubuhnya sampai berubah menjadi sangat muscular dan juga mengikir giginya demi penampilan yang lebih kejam. Dan akting mengerikan ini tentu saja diganjar dengan nominasi Best Actor baik dari Golden Globe dan Academy Awards. Sayang DeNiro harus menyerah, karena di tahun yang sama ada Hopkins dengan Hannibal Lecter-nya, yang sama-sama menyeramkannya. Well, buat gue sih keduanya sama-sama mengerikan, but Cady definetely hotter than Lecter, hahaha.


                Dan akting dari Juliette Lewis juga perlu diapresiasi. Berperan sebagai Danielle, anak dari Sam-Leigh yang bermasalah, outsider, dan malah memiliki perasaan khusus kepada Cady, malah membuat film ini semakin kompleks. Sangat disayangkan, karena  akting Nick Nolte harus tertutupi dengan kedigdayaan DeNiro.

               It’s amazing to see how a anger and vengeance possesed and lead your body, mind, and soul to an unimaginable power, to reach your will and goal, in a bad way. And Cape Fear showed it really way. And it’s creeped me out, in a good and hot way. So if you a fan of Scorsese, you might loving this one.